Categories
Uncategorized

TIRATHABA Melubangi Buah (kiri)

Nugroho Adi, Product Manager PT Nufarm Indo nesia juga mewanti-wanti soal bonggol tanaman. Serangan kumbang tanduk pernah terjadi di kebun peremajaan di kawasan Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. “Pohon tua dicacah tapi ukuran cacahannya masih agak besar, jadi tempat Oryctes naruh telur. Kalau di kebun perusahaan, mereka menempatkan trap feromon (pemikat serangga). Tapi di perkebunan rakyat ya sudah begitu saja,” ungkapnya ketika disambangi AGRINA di kantornya. Adi merekomendasikan insektisida berbahan aktif deltametrin, Inovate 100 EC sebanyak 1-1,5 ml/liter untuk mengatasi kumbang itu. Insektisida ini sebaiknya disemprotkan pada pucuk tanaman karena hama menggerek di sekitar titik tumbuh.

Selain kumbang tanduk, masih ada hama lain yang tak boleh diabaikan. Dudy dan Adi menyebut ulat kantong (beberapa spesies, antara lain Metisa plana) dan ulat api (Setora nitens). Kedua serangga ini melahap daun. Kalau tidak dikendalikan, tanaman kehilangan “dapur masaknya” dan produksi pun berkurang bisa sampai 15%. Dudy menyarankan injeksi batang dengan insektisida Marshal 200 EC. “Dosisnya 30 cc per pohon. Diinjeksikan dengan kemiringan sudut bor 45o , pada ketinggian 1 m di atas tanah. Lubang dibuat dua, kiri kanan, masing-masing diisi 15 cc larutan dengan 15 cc air,” urainya. Sementara Adi memberikan dua alternatif, injeksi batang dengan Chepate 75 SP dengan dosis 15-20 g/batang tergantung intensitas serangan. Atau bisa juga penyemprotan bioinsektisida racun lambung Dipel SC dengan dosis 500 ml/ha. Adi menambahkan, bioinsektisida tersebut juga baik untuk mengendalikan hama Tirathaba sp. yang menyerang buah. “Ini hama pada kebun di lahan gambut dan lahan berpasir yang tidak melakukan kastrasi dan pruning (pemangkasan). Dia makan permukaan buah sehingga tampak kecolekatan. Pada serangan berat bisa menurunkan produksi hingga 40%” ulasnya.

Gulma, Jangan Lupa

Keberadaan gulma yang tidak terkendali pada kebun sawit juga mempengaruhi produksi. Pasalnya, gulma menyaingi tanaman sawit alam menye rap nutrisi dari pupuk, menjadi inang OPT, juga menyulitkan langkah pemeliharaan tanaman. Dudy secara khusus menyoroti gulma yang sudah resisten terhadap herbisida umum. Misalnya lulangan (Eleusine indica) di Riau dan Sumatera bagian selatan, yang tahan terhadap herbisida glifosat dan parakuat. Untuk itu ia menganjurkan aplikasi herbisida baru berbahan aktif sulfentrazon, Boral 480 SC dengan dosis dua tutup per tangki atau 400 ml/ha. Penyem protannya sampai basah merata. Supaya efektif, pengendalian dilakukan saat ketinggian gulma di bawah 30 cm. Sementara Adi melihat, pada perkebunan rakyat, pengendalian gulma kadang bergantung harga tandan buah segar (TBS). “Semestinya 3- 4 kali setahun. Kalau harga jelek, dilewati sekali. Kita punya glifosat, yaitu Kleenup 480 SL, Roundup 460 SL, dan Roundup Powermax 660 SL untuk mengendalikan gulma berdaun sempit,” paparnya. Ia menambahkan, untuk kacangan dan daun lebar dengan fluoroksipir, Fox 500 EC.

Sementara gulma berkayu, perdu, dan tunggul tanaman bisa diamankan dengan triklopir, Starlon 665 EC. Tentang penyakit pada sawit, Adi mengingatkan serangan penyakit hawar daun dan antraknose yang sering mengintai pembibitan. Ia menganjurkan aplikasi insektisida berbahan aktif klorotalonil, Phytoklor 82.5WG, untuk melindungi bibit. Selain itu, Adi dan juga Dudy menyebut busuk batang Ganoderma sebagai penyakit utama. Namun mereka mengakui belum bisa memberikan solusi secara kimiawi yang efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *